top of page

Pandemi dan Luka

Updated: Mar 15, 2022

Tidak ada yang mau dengan luka. Padahal ia berkorban begitu banyak memberikan makna. Membangun pendewasaan diri kita. Pandemi menawarkan wadah yang bisa membuat kita terkurung pada tempat yang jarang kita sentuh atau mungkin belum kita sadari kalau mereka ada. Pandemi menjejal manusia untuk lebih ramah pada sesama. Menggapai kata damai dengan tetangga di saat kita sendiri juga sedang terluka. Memaksa kita menghela napas hanya untuk sekadar meringankan beban yang tertahan di hati. Beban yang mulanya datang dari itu-itu lagi. Tentang kehidupan, tentang penerimaan, tentang perubahan.


Pandemi menawarkan wadah. Kita belajar arti kehilangan dan keberadaan jauh lebih rajin dari sebelumnya. Kita ditempa arti mencintai dengan sempurna secara sederhana. Kita terlalu banyak belajar dari pandemi. Tak mengapa. Mungkin jika tidak sekarang, kita tidak pernah bisa mencicipinya. Karena kita tidak bisa mengajukan perpanjangan jarak antara hidup dan kematian, antara berjalan, dan terbaring sendirian.


Luka adalah induk yang begitu sempurna menjatuhkan sekaligus membangunkan tembok untuk berjalan pada arus kehidupan anak-anaknya. Mau arus yang seperti apa? Selalu indah? Oh tidak mungkin ada. Selayaknya Pandemi yang sama seperti luka, yang begitu baik mengajarkan kita. Tetap siapa yang mau dengan mereka? Meski mereka menawarkan hadiah hikmah dan pertahanan diri. Orang tetap berbondong-bondong mencari cara bahagia hingga lupa bahwa luka juga harus diberikan perhatian. Memusnahkan mereka adalah kerusakan dan mengalahkan mereka dengan kebahagiaan yang dipaksa juga menimbulkan hal serupa.


Dari Pandemi, setidaknya memberikanku kesempatan berpikir bahwa luka terkadang harus dicintai, supaya saat mereka datang memberikan kita hadiah, kita sudah tau bagaimana cara berterima kasih.


Comments


  • Instagram
  • Spotify
  • Twitter
  • TikTok
  • LinkedIn
bottom of page